Latihan Dasar Kepemimpinan: Al Umanaa Mencetak Ragi

Kita sedang mencetak ragi, bukan peuyeum.

Sedikit kutipan dari Mudir Pondok Pesantren Modern Al Umanaa, singkat tapi terdapat makna mendalam terkandung. Kalau diibaratkan industri kuliner, Al Umanaa tengah membuat ragi sebanyak-banyaknya untuk menjadi pengembang dalam berbagai adonan. Hanya 10 gram ragi dapat menjadi ‘jiwa’ bagi lebih 1 kilogram tepung dan teman-temannya dan mampu memrosesnya, mengembangkannya menjadi roti, donat, bahkan peuyeum dan kue-kue lain yang lezat. Sedikit, tapi menjadi penentu.
Seperti itulah gambaran hasil pendidikan yang sedang dituju oleh Pondok Pesantren Modern Al Umanaa. Santri Al Umanaa harus menjadi generasi unggul, generasi pemimpin, generasi penentu seperti ragi. Dengan dasar aqidah Islamiyah yang kuat, santri Al Umanaa di masa depan diharapkan menjadi tonggak dan pemimpin umat yang akan membawa bangsa Indonesia dan dunia kepada kesejahteraan dan keselamatan. Untuk mewujudkan itu semua, tentu santri dan para pendidiknya harus menempuh proses yang tak mudah.
Salah satu program yang dijalankan dalam mencapai tujuan tersebut adalah Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Program yang dijalankan pada 24-30 Februari 2018 silam ini diikuti oleh seluruh santri Al Umanaa. LDK dilaksanakan di Pondok Al Umanaa juga menjadi sebuah sarana untuk mempersiapkan kepengurusan Ikatan Santri Ma’had Al Umanaa (ISMU) periode 2018/2019.



Petugas Upacara Pembawa Name Tag untuk Peresmian Pembukaan Latihan Dasar Kepemimpinan 2018

Suasana Upacara Pembukaan Latihan Dasar Kepemimpinan 2018 Pondok Pesantren Modern Al Umanaa

Berbagai pelatihan yang menyenangkan dan berbobot dilaksanakan. Setelah dibuka dengan upacara yang syahdu dan tertib, program pertama diisi oleh Ustadz Faqih Al Haq dan Ustadzah Amalia Dianah dengan materi Sejarah Al Umanaa. Panitia turut mengundang alumni, yaitu Kak Yazid Nizar dan Kak Hasna Aqilah sebagai pembicara dalam talkshow tentang pengalaman berorganisasi. Materi disampaikan dengan apik dan menarik membuat para peserta LDK terbayang-bayang akan kondisi ISMU di waktu dulu.
Setelah mengenal lebih dalam tentang Al Umanaa dan ISMU, peserta diajak untuk meningkatkan keterampilan organisasi mereka dengan berbagai pelatihan. Pelatihan pertama dibawakan oleh Ustadz Mahdi Karim tentang pentingnya beroganisasi. Pelatihan-pelatihan berikutnya bertemakan entrepreneurship (oleh Ustadz Azwar Gani), planning (oleh Ustadz Yoga Nur Budianto dan Ustadz Muhammad Husnu), problem solving (oleh Ustadzah Prianka), kepemimpinan (oleh Ustadz Mahdi Karim), dan teknik persidangan dan keprotokoleran (oleh Ustadz Faqih Al Haq). Kegiatan permainan yang bertujuan untuk melatih kekompakan dan kerja sama juga terlaksana dengan sangat seru, dipimpin oleh santri-santri senior sebagai panitia. Gelak tawa menjadi melodi ma’had hampir di setiap sore pekan LDK.

Workshop Tata Cara Persidangan dan Keprotokoleran

Menjelang berakhirnya LDK, dipilihlah calon-calon Ketua ISMU yang akan ‘digembleng’ lebih intensif. Calon Ketua ISMU yang dipilih antara lain Aufa Ahda Sabila (kelas XII), Difa Al Maarik (kelas XII), Fariq Razaki (kelas X), Muhammad Salman Ibrahim (kelas XI), Rifki Theo Agarbe (kelas X), dan Rizky Setiawan (kelas X). Untuk ISMU Putri, dicalonkan Mirrah Assalamah (kelas X), Muthia Daniyah Ahmad (kelas X), Salmaa Maitsaa Shiddiq (kelas X), dan Zahra Nur Asyifa (kelas XII). Para calon ketua ini mendapatkan tantangan-tantangan seru, yang menarik untuk ditonton, tapi membuat hati berdebar bagi para calon ketua.
Dimulai dari wawancara sebelum shubuh, mereka menyatakan komitmennya bahwa siap menjadi Ketua ISMU apabila terpilih nantinya. Setelah itu, berbagai misi pun diberikan. Mulai dari mengajak santri yang tengah beristirahat untuk berkumpul di tengah lapangan di bawah matahari yang saat itu lumayan bersemangat, membariskan santri, hingga berorasi di depan santri-santri lainnya. Gengsi dan malu tidak bisa lagi disematkan di dada mereka.
Selain tantangan untuk melatih mental dan kepemimpinan mereka, para calon ketua ISMU juga dibekali dengan pelatihan yang tak didapatkan oleh santri lain, yaitu membuat visi dan misi organisasi yang dibimbing oleh Ustadz Azwar. Bila sebagian dari kita baru dapat mengalami dan mempelajari hal itu di masa organisasi kuliah, generasi Al Umanaa sungguh telah mendapatkan percepatan yang luar biasa. Masih SMA tapi sudah mendapat banyak bekal. Hasil membuat visi dan misi tersebut dipaparkan di hari-hari terakhir LDK. Para santri yang lainnya mendengarkan pemaparan visi misi para calon ketua ISMU dan diperkenankan bertanya dan memberi masukan.
Tulisan ini hanya mampu merangkum sekelumit dari keseruan dan banyaknya manfaat yang didapat dalam LDK. Semoga LDK ini memberi manfaat yang besar dan mampu menjadi dasar yang kuat bagi kepengurusan ISMU periode 2018/2019. Selamat berproses menjadi ragi peradaban!

Scroll to top