Refleksi Perjuangan di Kuningan

22 Mei 2017 adalah awal untuk memulai jihad kami yang ketiga. Berbekal do’a dari semua orang dan pelajaran yang telah kami dapat, kami meninggalkan Al-Umanaa. Dengan tujuan ibadah dan harapan untuk bisa berhasil lagi. Kali ini tempatnya adalah Kuningan. Tempat yang sama sekali belum pernah kami injakkan kaki kami di sana. Perjalanannya cukup melelahkan. Butuh waktu sekitar delapan jam untuk sampai di sana, maka selama itu pula kami berada di dalam mobil. Belajar, belajar, dan belajar. Sampai tak terasa kami telah sampai di Kuningan.

Lombanya akan dilaksanakan esok hari, setelah melakukan pawai. Mengingat itu, rasa tegang mulai meghantui kami. Jadi, walaupun lelah, malam ini kami memutuskan untuk belajar lagi, tidak langsung tidur.

Ketika matahari pagi siap menyambut hari ini, maka kami pun siap untuk bertanding mengalahkan peserta lain. Pukul tujuh kami semua-rombongan Kabupaten Sukabumi- berangkat menuju Masjid Syi’arul Islam kabupaten Kuningan. Di sana semua kontingen dari berbagai kabupaten dan kota berkumpul untuk melaksanakan pawai. Ada 27 Kota/Kabupaten di Jawa Barat yang mengikuti perhelatan PENTAS PAI 2017.

Ramai sekali suasananya. Kami melihat kontingen lain dengan pakaian seragam dan pasukannya yang heboh. Agak minder memang melihatnya. Lihatlah! Kontingen dari Kabupaten Sukabumi tidak ada pasukan-pasukan heboh seperti yang lain, bahkan seragam pun tidak. Tapi kami harus ingat tujuan awal kami datang jauh-jauh ke sini. Bukan untuk foya-foya tapi untuk ibadah.  Membawa nama baik Al-Umanaa dan Sukabumi.

Setelah pawai, acara dilanjutkan dengan upacara pembukaan. Baru setelah itu, lomba dilaksanakan, setelah dzuhur. Sebelum ke ruangan, kami berkumpul di aula. Menunggu lomba di mulai. Dengan sekotak box makan di tangan kami yang terabaikan. Rasa tegang terlanjur membuat kami seperti sudah makan satu bakul nasi.

Lomba LCC dibagi ke dalam tiga kelompok, A,B, dan C. Entah mengapa sepertinya undiannya menguntungkan. Kabupaten Sukabumi mendapat kelompok C, kloter 2. Dengan lawan pertama kami adalah dari Kabupaten Banjar dan Kabupaten Pangandaran. Setelah ada pemanggilan, kami segera menuju ruangan.

Tiga meja lengkap dengan belnya telah berjejer rapi di depan. Kursi-kursi hampir penuh oleh para peserta dari kontingen lain. Semuanya sedang belajar. Melihatnya membuat kami semakin tegang. Semua kontingen melakukan persiapan dengan sangat baik. Mereka semua tidak bisa diremehkan.

Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya nama Kabupaten sukabumi dipanggil. Juru bicara dari kelompok kami segera maju untuk mengambil undian. Kita mendapat group C. Sementara pembimbing kami duduk di meja peninjau.

Pertandingan berjalan dengan lancar. Walaupun sempat terjadi insiden antara kontingen Kabupaten Sukabumi dengan kontingen lain yang membuat mental kami sempat jatuh. Tapi Alhamdulillah, pada babak pertama ini, Allah meridhai kami untuk maju ke babak selanjutnya.

Kami kembali ke tempat duduk dengan pearsaan bahagia untuk akhirnya mendapat ‘ceramah’ dari kedua pembimbing kami. Berbekal itu, kami maju lagi di babak semifinal dengan mental tinggi, lawan kami selanjutnya adalah Kab. Cirebon dan Kota Sukabumi. Yah saudara kami sendiri. (J). Alhamdulillah, babak Semifinal selesai, kami kembali keluar sebagai juara dan masuk ke babak Final. Mencetak rekor untuk Kabupaten Sukabumi.

Pukul 19.00 tepat, babak final dimulai. Kali ini kami mendapat tempat di group A. Dua lawan kami adalah dari Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bandung. “Saudara Tua” begitulah sebutannya yang disematkan oleh pembimbing kami. Mungkin karena dua-duanya adalah langganan juara dan babak final LCC.

Sorak-sorai penonton dari kontingen Bogor dan Bandung dengan segera memenuhi aula. Sekali lagi menguji mental kami. Tapi tak apa. Kami balas teriakan mereka semua dengan yel-yel kami yang punya semangat ‘45.  “Al Umanaa, are you Ready? Yes We Are Ready, Allah is the One, So We Are One, We Are the Best People for the Best World”. Jargon andalan Al Umanaa pun tidak kalah menggaung di aula pertandingan.

Pertandingan dimulai dengan soal bersama. Dilanjutkan dengan soal wajib. Hanya juru bicara yang boleh menjawab. Dua lainnya membantu membisikkan jawaban. Kami berdua seperti penasihat yang membisiikan rajanya. Sembilan dari sepuluh soal berhasil kami jawab dengan sempurna. Selanjutnya adalah games. Ini adalah yang berbeda dari perlombaan-perlombaan sebelumnya. Tapi tak sulit. Cukup dengan ketelitian. Alhasil, Kabupaten Sukabumi memimpin skor sementara. Namun hanya terpaut dua angka dari Bandung dan tiga angka dari Bogor yang kedua-duanya siap untuk membalap.

Sesi terakhir yang paling menegangkan, yang paling ditunggu-ditunggu, sesi rebutan. Karena ini sangat menentukan. Baru beberapa soal dibacakan, kami sudah merasa sangat panas. Bagaimana tidak? Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bandung terus-terusan menjawab. Tidak memberi kesempatan bagi kami untuk menjawab. Sampai akhirnya kami tak tahan lagi. Rasa tegang mulai menyelimuti tubuh. Tanpa memikirkan ketelitian, kami terus menekan bel. Entah soal itu telah selesai dibacakan atau belum, kami tak peduli. Rasa tegang sudah terlanjur menguasai tubuh kami.

Namun itulah kesalahan kami. Yang membuat akhir dari cerita ini benar-benar berbalik dari harapan awal kami. Ya, kami berakhir dengan menyandang juara 3. Saudara tua Bandung berhasil keluar menjadi juara.  Tapi tak apa. Itu namanya qada Allah. Kita sebagai manusia hanya bisa menerimanya.

Walaupun pada akhirnya kami hanya mendapat juara 3, tapi kami tetap bersyukur. Setidaknya kami telah mendapat banyak pelajaran dari proses panjang yang telah kami lalui. Proses berharga yang tidak bisa didapatkan semua orang. Proses untuk menjadi mujahidah terbaik untuk umat terbaik. Terimakasih guru-guru yang sudah membimbing, mohon maaf jika belum bisa memberikan yang terbaik hari ini, terimakasih our beloved school, Al Umanaa.

[Siti Nurmalasari]