Budaya Konsumtif di Balik Selebrasi Valentine

Memasuki bulan Februari, tayangan-tayangan televisi mulai dipenuhi film romansa. Toko-toko dihiasi balon-balon berbentuk hati dan bernuansa merah muda. Boneka-boneka beruang manis mulai memenuhi etalase, dengan memegang hati berwarna merah bertuliskan “i love you” Produsen coklat pun mengganti kemasannya dan melakukan promosi jor-joran demi menarik perhatian pembeli.

Ya, selebrasi bertajuk Valentine ini semakin mendarah daging di lingkungan kita. Padahal jika dirunut dari sejarahnya, kehadiran hari raya valentine ini tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan sejarah bangsa kita. Justru jika kita tilik lebih dalam, perayaan ini berawal dari kematian seorang warga Romawi bernama Santo Valentinus. Lantas, mengapa lingkungan kita saat ini merayakannya seakan-akan itu adalah hari sakral yang perlu diperingati?

Perayaan valentine adalah satu dari sekian banyak perayaan yang diadaptasi oleh generasi muda kita, tanpa tahu betul esensi yang ada di baliknya. Ditambah lagi, kemudahan akses informasi dan tayangan di berbagai media, menjadikan setiap tontonan sebagai tuntunan hidup remaja masa kini.

Segala bentuk perayaan yang dipamerkan melalui media sosial, terutama oleh para public figure tentu saja mengundang keinginan khalayak umum untuk mengikutinya. Mereka lakukan hal serupa dan menunjukkan di media sosialnya demi mendapatkan pengakuan sosial.

Hal ini tentu dimanfaatkan oleh para pengusaha, menjadikan momentum tersebut untuk menjajakan barang dagangannya. Kemasan bernuansa merah muda, pita cantik, dan kartu ucapan akan mampu menyulap sebuah produk memiliki nilai jual di momen valentine ini. Bagi pemilik restoran maupun tempat rekreasi, paket promo untuk pasangan tentu saja dengan senang hati akan mereka keluarkan demi mendapatkan antrean pelanggan. Untuk remaja yang sedang dimabuk cinta, tentu rela merogoh dalam koceknya demi mendapatkan perhatian si pujaan hati.

Apakah sebegitu mudahnya generasi muda kita terjebak kondisi-kondisi seperti ini?

وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 36)

Jangan biarkan generasi muda kita terseret dengan kebiasaan-kebiasaan tanpa paham betul esensi di baliknya.
(AA)