Resume: Rindu

Identitas Buku:
Judul Buku: Rindu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tahun Terbit: 2014
Jumlah Halaman: 544

Novel yang berjudul “Rindu” karya Tere Liye yang mengisahkan sebuah perjalanan Panjang yang berawal dari pelabuhan Makassar dengan kapal uap BLITAR HOLLAND yang membawa ribuan penumpang. Kisah perjalanan Haji.

Dari pelabuhan Kota Makassar, 1 Desember 1938 bertepatan dengan 9 Syawal 1357 H, kapal BLITAR HOLLAND ini memulai perjalanan. Ditumpangi calon Jama’ah Haji yang berasal dari seputaran pulau Sulawasi dan ada juga yang jauh-jauh datang dari Ternate menunggu kapal ini. Bapak Andipati salah seorang penumpang. Dia adalah saudagar kaya, pedagang rempah-rempah dan amat dermawan. Dia pergi haji bersama istri dan kedua putrinya bernama Anna dan Elsa. Bapak Andipati juga membawa pembantu rumah tangganya bernama Ijah untuk membantu keperluan keluarganya selama dikapal.

Adapula Bapak Ahmad Karaeng yang akrab dipanggil Gurutta, seorang kakek tua yang jika melihat wajahnya orang-orang akan keliru menafsirnya, disangka usianya kurang dari 60 tahun, ternyata usianya sudah hamper 75 tahun. Kakek tua ini sudah sangat terkenal didataran Makassar karena beliau adalah salah satu imam masjid di Katangka. Gurutta belajar agama di Aceh lalu melanjutkan ke Yaman dan Damaskus. Mengkaji agama dari ahli tafsir dan pakar hadits terkemuka. Gurutta masih terbilang keturunan raja Gowa pertama yang memeluk Islam. Sultan Alauddin, beliau salah satu kerabat Syek Yusuf seorang ulama yang dibuang ke Srilangka, kemudian dibuang lagi ke Cape Town, Afrika Selatan, 300 tahun lalu.

Bonda Upe beserta suaminya yang juga penumpang kapal haji, mereka berasal dari kota Palu, menempuh perjalanan panjang hingga sampai ke kota Makassar. Bonda Upe belajar mengaji di salah satu pesantren di kota Palu. Dalam kapal Bonda Upe menjadi guru mengaji anak-anak. Selama dalam kapal Bunda Upe hanya keluar kabin untuk melaksanakan sholat berjamaah di masjid kapal.

Dan seorang pelaut berpengalaman yaitu Ambo Uleng. Sejak usianya 9 tahun Ambo Uleng sudah sering membantu ayahnya yang juga seorang pelaut. Namun ini pertama kalinya dia berhadapan dengan kapal uap, dan dia menawarkan diri untuk bekerja menjadi apapun dikapal ini walaupun tanpa digaji. Bukan berniat ingin ke Mekkah dengan gratis tapi dia hanya ingin pergi jauh meninggalkan kota kelahirannya yaitu Pare-Pare.

Kapal BLITAR HOLLAND melakukan perjalanan dari pelabuhan Makassar menuju pelabuhan Surabaya, pelabuhan Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Banda Aceh, Kolombo, Sri Langka dan barulah tiba di Jeddah. Pertanyaan pertama terbuka saat kapal berlabuh di Batavia. Gurutta mengajak beberapa penumpang turun dari kapal untuk menikmati makanan di kota itu, termasuk Bonda Upe dan suaminya. Bonda Upe tak ingin pergi ke Batavia karena hal itu akan membuat lukanya kembali menganga, namun karena paksaan sang suami dan Anna salah satu murid mengajinya, Bonda Upe berangkat dengan penuh ketakutan. Saat baru akan makan, seorang perempuan yang bernama Asih dengan pakaian seksi dan dandanan lipstik serta bedak tebal yang berada di tempat makan yang sama dengan Bonda Upe menegur Bonda Upe dengan nama Lingling. Bonda Upe lari dan kembali ke kabin. Berhari-hari Bonda Upe mengurung diri di kabin tidak shalat berjamaah di masjid dan tidak makan di kantin. Suatu hari suami Bonda Upe membujuknya untuk bertanya kepada Gurutta terkait kisah masa lalunya yang sangat memilukan sehingga membuat Bonda Upe merasa malu menemui orang-orang selama bertahun-tahun. 

Pertanyaan kedua datang dari Bapaknya Andipati seorang saudagar yang kaya raya, terlihat sangat bahagia namun sejak berumur 15 tahun, dia menyimpan begitu banyak kebencian kepada seseorang yang harusnya disayangi. Hal itu terungkap saat di tengah heningnya malam setelah mengunjungi kantin untuk melihat apakah Gurutta berada disana atau tidak. Andipati melewati lorong-lorong kecil yang hanya memiliki sedikit cahaya, tiba-tiba seseorang hampir saja membunuhnya dengan pisau, bersyukur pisau itu hanya menyambar bagian lengannya dan ada Ambo Uleng yang datang untuk menolongnya. Si penjahat itu di bawa ke penjara bagian bawah kapal. Andipati sangat tahu siapa orang itu, ketika di beritahu oleh Roben bahwa badannya ada tato dengan tulisan Gori Penjagal. Andipati mulai memutuskan untuk bercerita kepada Gurutta setelah usai menemui Gori Penjagal di penjara bawah kapal. 

Pertanyaan ketiga datang dari Penumpang yang naik kapal BLITAR HOLAND saat kapal berlabuh di pelabuhan Semarang. Sepasang suami istri yang sangat romantis bernama Mbah Kakung Slamat dan Mbah Putri Slamat. Mereka adalah penumpang paling tua di kapal, usianya 80 tahun. Saat keluar kabin pasangan tua itu selalu bergandengan tangan, bahkan saat kapal berlabuh di pelabuhan Bengkulu, mereka dan penumpang lain turun untuk menikmati pantai yang indah. Namun kejadian sangat menyedihkan saat kapal menuju Kolombo, Mbah Putri yang beberapa hari terakhir jarang keluar kabin karena sakit harus menghembuskan nafas terakhirnya di dalam kapal di tengah laut, jauh dari daratan. Jasad Mbah Putri di tenggelamkan di Samudera Hindia. Berhari-hari Mbah kakung bersedih dan tidak mau makan, putri sulung Mbah Kakung memutuskan meminta bantuan Gurutta untuk membujuknya makan. Malam itu Mbah Kakung berkata lirih, bahwa sejak menikahi Mbah Putri, hidupnya tidak memiliki pertanyaan karena dia telah memiliki semua jawabannya. Mbah Kakung sangat bersyukur atas takdir yang di terimanya. Namun pertanyaan itu muncul, kenapa harus sekarang ? kenapa ketika mereka tinggal sedikit lagi sampai di tanah suci ? kenapa harus di lautan ini ? tak bisakah di tunda barang satu atau dua bulan lagi, atau paling tidak ketika mereka sampai di tanah suci agar mereka bisa bergandengan tangan melihat Masjidil Haram. Gurutta memberi tiga jawaban, yaitu yakin lah bahwa kematian Mbah Putri di tengah perjalanan haji ini  adalah takdir Allah SWT yang terbaik. Biarkan waktu yang akan mengobati kesedihan itu . dan lihatlah penjelasan ini dari kaca mata yang berbeda. Semoga tiga hal itu dapat membantu Mbah Kakung menghibur penat dalam hati. 

Pertanyaan keempat datang dari seorang pemuda yang bekerja di kapal ini sejak berangkat dari pelabuhan Makassar. Dialah Ambo Uleng pemuda yang ingin meninggalkan kota kelahirannya Pare-Pare. Pemuda yang sangat berjasa, menolong Anna putri dari Bapak Andipati saat terjadi perlawanan masyarakat pribumi kepada tentara Hindia Belanda. Dia juga menolong Bapak Andipati saat Gori Penjagal hendak ingin membunuhnya. Dia juga membantu mengepakkan layar, membuat kapal uap BLITAR HOLAND di tengah kerusakan mesinnya yang akhirnya membuat kapal besar itu terkatung-katung di tengah lautan, karena pengalamannya sebagai pelaut kapal tersebut dapat melakukan perjalanan hingga menuju pelabuhan Kolombo. Namun sejak Ambo Uleng terkurung di ruang kecil dekat cerobong asap dan di temukana dalam keadaan sekarat oleh kelasi yang saat itu bertugas membersihkan ruang kecil itu, Ambo mulai berubah. Dia belajar shalat dan mengaji. Pertanyaan itu di awali oleh Gurutta yang bertanya ke Ambo Uleng tentang seberapa cantikkah perempuan yang membuatnya harus pergi dari Kota Pare-Pare itu ?  Selama perjalanan Gurutta menasehati banyak hal agar Ambo  Uleng mampu bersabar dan ikhlas dalam mencintai seseorang.  

Dan inilah pertanyaan terakhir dari seorang ulama yang masyhur yang selama ini selalu memberi jawaban dari setiap pertanyaan-pertanyaan. Gurutta Ahmad Karaeng. Ketika kapal berada di tengah perjalanan menuju Jeddah, dataran terdekat dari mereka adalah negeri Somalia, dengan ibu kota Moghadishu. Negri dengan sejarah perompak laut yang sangat panjang. Ketika Sergeant Lucas menahan Gurutta karena melanggar perjanjian awal untuk tidak membahas soal kemerdekaan dalam kapal itu. Dengan ditemukannya buku yang baru saja di tulisnya yang berjudul “KEMERDEKAAN ADALAH HAK SEGALA BANGSA”. Gurutta di tahan di penjara  bawah dekat mesin. Itulah pertanyaan terakhir yang menutup seluruh cerita, pertanyaan yang di jawab bukan dengan lisan dan tulisan tapi dengan perbuatan.

#MahirLiterasiPastiBerprestasi
#LiterasiMembangunNegeri
#BangunGenerasiBerliterasi
#LiterasiSantriMenginspirasi
#BerliterasiDariRumahSaja